Sabtu, 30 Agustus 2008

TAK MEMBEDA-BEDAKAN!


Oleh : Zuni Rahmawati


Saya adalah salah satu keponakan beliau dari 28 keponakan yang ada, mulai kecil saya tinggal dengan beliau selalu di nina boboin ketika mau tidur hingga menggendong jika ketiduran di meja belajar, beliau selalu memberi cerita bagaimana sejarah keluarga Zawawi yang merupkan bapak kandung beliau.


Selain sebagai keponakan saya juga sebagai murid beliau di MI Mambaul Ulum dimana beliau menjadi kepala sekolah, hal yang tidak pernah saya lupakan ketika beliau mengajar adalah tidak mengenal perbedaaan dalam menerapkan disiplin dan etika terhadap semua murid. Sempat saat itu saya melanggar tidak mengerjakan kerajinan tangan dan saya ingat saya mendapatkan bebarapa pukulan penggaris dan juga dijemur dibawah tiang bendera dengan terik matahari yang begitu menyengat, lain di rumah lain juga disekolah.


Di rumah beliau menjadi sosok yang dipanuti oleh setiap anggota keluarga yang tinggal bersama beliau, penerapan jiwa sosial kepada keluarga sudah beliau terapkan kepada keluarga, apalagi pribadi saya yang mempunyai keunikan takut untuk menghadapi sesuatu yang baru akan tetapi berkat motivasi beliau yang selalu sedikit memaksa saya untuk tidak takut dalam melengkah kedepan membuat saya sedikit berlatih berani walaupun dipaksa tapi semua hikmahnya dapat saya rasakan.***

TULANG PUNGGUNG SEJAK MUDA


Oleh : Zuni Rahmawati

Berikut ini adalah penuturan Muhaiminah Zawawi (83) ibunda tercinta Bu Liliek.

Lilik panggilannya, sebenarnya namanya adalah Siti Chuzaimah tetapi setelah sekolah berubah menjadi Chuzinah mungkin kesalahan ijazah, Lilik adalah anak saya yang kedua dari sepuluh anak, mulai dari kecil dia adalah pengganti saya merawat adik-adiknya karena saya juga harus mencari nafkah untuk mereka setelah ditinggal suami jadi mulai dari cuci baju sampai memasak dan juga mengurus adik-adiknya, lilik sering pindah-pindah rumah tapi masih di daerah Wonokusumo saja.


Lilik anak saya ini tidak kenal lelah selain mengurus adik-adiknya dia juga mengajar di beberapa sekolah sampai sore selain mengajar dia juga jualan sate tusuk serta plunter (makanan dari pohong yang dibungkus dari daun pisang), setelah tiba dirumah di langsung masak untuk nyiapin makanan dan menyiapkan adonan jajan yang akan dijual besok.


Dia sosok yang tegar mulai dari kecil sampai tua tidak pernah mengeluh dengan kehidupanya rasa syukurnya sangat tinggi dan suka menolong orang lain walapun kadang-kadang dirinya juga kekurangan.***

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Oleh : Davonar

Surat Kecil untuk Tuhan, Surat Terakhir Gadis Remaja Penderita Kanker Ganas Tuhan, . ..Andai aku bisa kembali... Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini. Tuhan ... Andai aku bisa kembali, aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku, terjadi pada siapa pun.

Cuplikan itu menjadi sedikit bait dari sebuah tulisan yang ditulis seorang remaja penderita kanker Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak. Sebuah kanker ganas yang menyerang pada bagian wajah seorang gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika. Umurnya masih 13 tahun saat dokter mengatakan kepada ayahnya bahwa putrinya hanya dapat bertahan selama 5 hari bila tidak melakukan operasi segera. Hati ayah mana yang tidak hancur ketika tau jalannya operasi itu harus membuat sang putri kehilangan sebagian wajahnya.

Sedangkan sang putri mulai bertanya mengapa diwajahnya mulai tumbuh gumpalan sebesar buah kelapa. Tak ingin melukai hati anaknya, sang ayah berserta keluarga merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta prestasi model dan tarik suara. Namun perlahan Keke mulai menyadari dirinya bukan sakit biasa, ia sadar hidupnya tak mungkin akan bertahan lama dengan pandangan mata yang mulai buta oleh kanker. Walau akhirnya ia tahu ia terserang kanker ganas, ia pasrah dan tidak marah pada siapa pun yang merahasiakan penyakit maut itu padanya.

Ia memberikan senyum kepada siapa pun dan menunjukkan perjuangannya bahwa dengan kanker di wajahnya, ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat. Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil, Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama.

Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi pada putri Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya. Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya.

Dokter menyerah terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapa pun. Nafasnya telah berakhir 25 Desember 2006, tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman.

Perjalanan waktu, biografi Keke ditulis oleh Agnes Davonar, buku yang penuh dengan hikmah dan ketulusan ini diberi judul ” SURAT KECIL UNTUK TUHAN” memiliki misi kemuliaan cukup tergambar dengan menyumbangkan sebagian dari hasil penjualan ini kepada yayasan yang bernaung membantu penderita Kanker di Indonesia. Bahkan, buku ini diedarkan di luar negeri dengan permintaan penerbit asal Taiwan di bawah bendera Suaraindo, yang merupakan tabloid berbahasa Indonesia, akan terbit bulan September awal.

Sedangkan di Indonesia sendiri akan diedarkan minggu ketiga Agustus. Sebuah soundtrak yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik Indonesia, Ferel dengan judul ” Sebab Kau Menjagaku” menambah arti kisah perjalanan gadis remaja yang mendapatkan penghargaan sebagai siswa teladan Indonesia dari pemerintah Indonesia. Agnes Davonar sendiri mengakui, air matanya tak pernah berhenti ketika menuliskan buku ini, sehingga ia berharap buku ini dapat menjadi sebuah semangat bagi siapapun orang yang mengalami sebuah cobaan dari Tuhan agar tetap bersyukur dan pasrah. Ayah Agnes Davonar juga meninggal karena sebuah kanker paru-paru sehingga ia begitu bersemangat menuliskan kisah ini sejak 2 tahun silam.

Selasa, 05 Agustus 2008


Bu Liliek sangat memanjakan cucu-cucunya. Beginilah kedekatan Bu Liliek dengan cucu pertamanya, Abil.

Minggu, 03 Agustus 2008

UCAPAN DUKA CITA UNTUK BU LILIEK YANG DIKIRIM MELALUI PUTRANYA SAIBANSAH DARDANI



Dari Kyai Idris Jauhari (Pimpinan Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 15:32:44 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sampaikan salam ta’ziyah yang sedalam-dalamnya. Addhomallah ajrokum wa ghofa ro li mayyitikum.”

Dikirim Ismeth Abdullah (Gubernur Provinsi Kepulauan Riau) dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 16:37:30 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya dan istri menyatakan turut berduka cita se dalam-dalamnya atas wafatnya ibunda tercinta. Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menerima musibah ini.”

Dikirim Ria Saptarika (Wakil Walikota Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 17:26:41 Wib.
“Allazina iza ashabathum musibah, qolu, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Atas nama pribadi & keluarga, kami menyampaikan turut berbelasungkawa atas wafatnya ibunda tercinta. Semoga arwah beliau diampuni segala kesalahannya & ditempatkan di tempat yang mulia di sisi-Nya. Amien.”

Dikirim Irwansyah Tanjung (Staf Ahli Menteri Kehutanan RI), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 16:36:10 Wib.
“Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Kami sekeluarga ikut berduka cita, semoga beliau mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.”

Dikirim Laksamana Pertama Rahman (Kaposwil BIN Provinsi Kepri), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:17:39 Wib.
“Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga ikut berduka cita, semoga arwah dan amal ibadahnya diterima Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan lahir batin. Amien. Wassalamu’alaikum.”

Dikirim Muchid Albintani (dosen Universitas Riau Pekanbaru), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 16:40:30 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga, ‘ndan dan keluarga selalu tabah selalu. Amien.”

Dari Surytanto (RT Komplek Nusa Jaya Sei Panas Batam), dikirim tanggal 28 Agustus 207 pukul 19:43:25 Wib.
“Saya turut berduga cita atas meninggalnya ibunda. Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amien.”

Dari Zubaidi Raqieb (Wartawan Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta), dikirim tanggal 29 Agustus 2007 pukul 16:05:45 Wib.
“Semoga Allah menyanyangi almarhumah. Ane bersaksi beliau orang baik. Doa’ku menyertai kepergian ibu kita tercinta. Salam ta’dzim untuk keluarga.”

Dari Nining (Staf Bursa Efek Jakarta), dikirim tanggal 26 Agustus 2007 pukul 20:14:04 Wib.
“Mas aku turut berduka ya, sori aku baru beberapa hari dapat kabar dan baru kasih ucapan bela sungkawa.”

Dari Savira (Staf Bursa Efek Jakarta), dikirim tanggal 31 Agustus 2007 pukul 17:11:26 Wib.
“Mas, sorry baru ngucapin. Turut berduka cita ya. Semoga tabah.”

Dari Yos Rizal (Agen Badan Intelijen Negara), dikirim tanggal 25 Agustus 2007 pukul 10:15:10 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka cita. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah dan diampuni dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya, dimudahkan urusannya di alam kubur. Amien.”

Dari Agus Setiawan (pengusaha komputer di Batam), dikirim tanggal 23 Agustus 2007 pukul 22:46:28 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga turut berduka cita atas berpulangnya ummi antum. Semoga Allah SWT menerima amal beliau semasa hidup.”

Dikirim Boy Hasan (aktivis LSM di Batam), dikirim tanggal 23 Agustus 2007 pukul 14:25:36 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya turut berduka cita, semoga awah almarhumah diterima di sisi-Nya sesuai amal ibadahnya.”

Dikirim Rahmat Santoso (pengusaha bidang ekspedisi di Jakarta), dikirim tanggal 23 Agustus 2007 pukul 11:56:26 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka cita atas meninggalnya orang tua (ibu) Saibansah. Semoga arwahnya diterima Allah SWT.”

Dikirim Bayu Sugiarto (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah LACAK Jakarta) dikirim tanggal 23 Agustus 2007 pukul 07:47:41 Wib.
“Segenap crew Majalah LACAK ikut menyampaikan bela sungkawa, semoga alamarhumah diterima di sisi-Nya dan diberi kekuatan lahir batin bagi keluarga yang ditinggalkannya. Mohon maaf kami tidak bisa hadir di rumah duka.”

Dikirim Pakde Gunarko (konsultan spiritual di Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 19:54:55 Wib.
“Assalamua’aikum. Ikut berduka cita atas meninggalnya orang tua dan semoga tabah menghadapi cobaan.”

Dikirim Aljihad (manager perusahaan badan usaha daerah Provinsi Kepulauan Riau), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 18:34:14 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga turut berbalasungkawa atas wafatnya ibunda, semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggal sabar dan tabah dalam menghadapinya. Amien. Wassalam.”

Dikirim Bang Amat (warga negara Singapura), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 17:37:10 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga turut berduka cita, mudah-mudahan arwah ibunya diterima di sisi Allah SWT.”

Dari Emi Suwito (ibu rumah tangga tinggal di Singapura), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 17:20:25 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga turut berduka cita, mudah-mudahan arwah ibu mas diterima di sisi Allah. Amien.”

Dari Rindi Rosandya (wartawan Harian Ekonomi Neraca Jakarta), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 15:09:36 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Taba ya bro…”

Dari Uba Ingan Sigalingging (aktivis LSM dan budayawan di Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:21:27 Wib.
“Kami sekeluarga menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga ibu kita diterima di sisi-Nya.”

Dari M. Ali Alkatiri (tokoh pendidikan di Jakarta), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:51:44 Wib.
“Adamuwllah azrak. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah.”

Dari Ibu Sari (Kepala Sekolah Sekolah Dasar Islam Terpadu Ulil Albab Tiban Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:48:53 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga bapak dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.”

Dikirim M. Arifin (Kepala Kesbang dan Linmas Provinsi Kepri), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:45:49 Wib.
“Kami keluarga Kesbang dan Linmas turut berduka cita, semoga amal semasa hidup beliau diterima di sisi Allah dan diberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Amien.”

Dikirim Ade Ardi (wartawan Harian Ekonomi Neraca Jakarta), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:39:19 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Ade Ardi dan keluarga turut berduka cita atas wafatnya ibunda Saiban, semoga Allah SWT memberi tempat terbaik di alam barzah dan keluarga yang ditinggal diberi kekuatan iman. Amien.”

Dikirim John Azber (staf di PT. Chevron Pacific Indonesia Pekanbaru), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:28:36 Wib.
“Assalamu’alaikum dan ‘mat sore om Saiban, kami John Azber dan keluarga turut berduka cita atas meninggalnya ibunda, semoga yang ditinggal tabah dan tawakal. Terimakasih. Wassalam.”

Dikirim Furqon (staf di PT. Pertamina Tongkang Surabaya), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:34:32 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka, semoga amal ibadahnya diterima Allah dan keluarga yang ditinggal agar selalu tabah. Amien.”

Dikirim Saiful Huda (pengusaha ekspedisi media di Jakarta), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:32:21 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga ikut belasungkawa semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan dinaikkan derajatnya. Semua kembali kepada-Nya dan semoga yang ditinggal dikasih kesabaran.”

Dikirim Fery Afrianto (pengusaha advertising di Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:28:44 Wib.
“Sing sabar yo mas, semua kita pasti bakal menghadap Allah SWT dan pulang ke tempat yang kekal, tinggal waktunya Allah yang menentukan. Semoga ibu di sama dilapangkan dan dimudahkan dalam segala urusannya dan dosa-dosanya diampunkan. Amien.”

Dikirim Hery We (staf Majalah LACAK Jakarta), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:25:00 Wib.
“Mas, aku turut berduka cita. Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya.”

Dikirim Dorlan Naibaho (pengusaha besi tua dan pengelola pasar induk di Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:24:20 Wib.
“Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga turut berduka cita, semoga arwah ibunda kita mendapat kebahagiaan di sisi-Nya. Amien. Wassalam.”

Dikirim Bambang Setyadi (jaksa di Kejaksaan Agung Jakarta), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:13:55 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami sekeluarga turut berduka cita semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya. Amien. Tak menduga secepat itu kepergian beliau.”

Dikirim Yuz Azheri (pengusaha di Pekanbaru), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:23:09 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga keluarga tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan dan semoga ibunda tercinta mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya. Amien.”

Dikirim Rumbadi Dalle (wartawan Majalah Tempo dan Koran Tempo di Batam) dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:20:07 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga mendapat tempat di sisi-Nya, dinda tabah.”

Dari Ustadz Ariyanto Rosyad (Pimpinan Pondok Pesantren An Ni’mah Dapur 12 Batu Aji Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:20:44 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah memberikan tempat yang terpuji. Amien.”

Dikirim Novianta Putra (Kepala Marketing Badan Otorita Batam) dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:19:32 Wib.
“Ikut berduka cita atas meninggalnya ibunda, semoga arwahnya diterima di sisi Allah. Amien.”

Dikirim Syamsul Bahrum (Asisten Walikota Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:17:40 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga arwah almarhumah diterima di sisi-Nya dan ditempatkan di surga sesuai dengan amalannya. Amien. Abang sekeluarga turut berduka cita. Nanti pengajian liqoh haqqani minggu terakhir, Selasa malam, kita doa’kan bersama. Wassalam.”

Dikirim Joko Wiwoho (Kabag Humas Badan Otorita Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:14:12 Wib.
“Kami sekeluarga mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.”

Dikirim Ibu Dea (psikolog di Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 14:10:59 Wib.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga almarhumah mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Kami sekeluarga turut berduka cita. Semoga yang ditinggalkan menjadi tabah dan tetap tawakal. Amien.”

Dikirim Kandarman (Ketua RT di perumahan Nusa Jaya Batam), dikirim tanggal 22 Agustus 2007 pukul 13:51:33 Wib.
“Kami sekeluarga turut berduka cita semoga arwah almarhumah diterima di sisi-Nya dan yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini. Amien.”










Hingga menjelang wafat, Bu Liliek terus memikirkan anak didiknya.

Bu Liliek bersama dengan guru SD MI Mamba'ul Ulum dan murid-muridnya.

Minggu, 22 Juni 2008


Ibuku bersama dengan para pengajar Sekolah Dasar Islam Mamba'ul Ulum Wonokosumo Kidul No. 44 Surabaya Jawa Timur Indonesia.